Jumat, 30 Januari 2015

INTERFACE PEMICU TIMBULNYA COLLAPSE DITEMUKAN PADA BEBERAPA RUAS JALAN LONGSOR DALAM KAWASAN HUTAN PEGUNUNGAN ACEH Munirwansyah1), Marwan 2), Reza P. Munirwan2), Idrus T 3) 1). Guru Besar Jurusan T.Sipil-Geoteknik, Fak.Teknik Universitas Syiah Kuala-B.Aceh 2). Dosen Jurusan T.Sipil –Geoteknik, Fak.Teknik Universitas Syiah Kuala-B.Aceh 3). Mahasiswa S2, Jurusan T.Sipil, Fak.Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala B.Aceh

ABSTRAK:

Penelitian Nasional Kemendiknas saat ini diarahkan supaya berfokus kepada kajian  yang  berorientasi  kepada  peningkatan  pertumbuhan  ekonomi  nasional  maupun  daerah.  Oleh  karena itu  persoalan infrastruktur jalan sangatlah  penting dan  merupakan  penyokong utama  untuk  perekonomian  setempat. Karena  apabila  infrastruktur  jalan  raya  rusak/putus atau  mengalami berbagai bermasalah seperti mengalami kelongsoran dimana-mana, maka  perpindahan   barang dan penumpang  menjadi   terhambat  dan  bemuara  kepada terlambatnya  percepatan pembangunan di daerah setempat. Salah satu ruas jalan nasional yang sudah 3 tahun terus mengalami kelongsoran dan telah menelan biaya perbaikan yang cukup besar bila diperhitungkan dari fasilitas infrastruktur yang telah dikerjakan pada lokasi jalan tersebut nbamun kembali rusak. Jalan tersebut adalah Jalan Lipat  Kajang-Batas  Sumut Kabupaten Aceh Singkil, yang  mencapai panjang 30 Km  dengan lebar  5 m, pada Sta. 633+550 - Sta. 678+695 kondisi geografis jalan  melewati  daerah pengunungan dan perbukitan yang kondisi tanah dalam lingkungan geometriknya  rentan terhadap perubahan moisture content. Tulisan ini merupakan hasil penelitian pada ruas jalan nasional di Desa Lae Pangkohan Kecamatan Danau Paris  (dalam kawasan  pergunungan)  yang  kondisinya sangat   membahayakan  keselamatan  pengguna  jalan karena sedang mengalami kelongsoran.  Kondisi ini sudah lama terjadi dan beberapa kali dilakukan langkah perbaikan tetapi kelihatannya pihak terkait belum menemukan solusi yang tepat untuk mengantisipasi hal tersebut. Hasil kajian akademis yang telah dilakukan, ditemukan adanya interface di bawah konstruksi jalan tersebut dan tinggi kritis timbunan (HKrit) telah mencapai batas ultimit. Munirwansyah (2002), pernah melakukan penelitian yang mempunyai kemiripan, hasilnya sama bahwa pemicu terjadinya pergerakan tanah atau longsoran lebih banyak disebabkan oleh faktor kemampuan sumber daya manusia yang mengabaikan faktor-faktor alam seperti topografy, land vegetations, climate yang sangat erat kaitannya dengan gangguan keseimbangan yang disebut dengan faktor-faktor storie index, di Provinsi Aceh problema kelongsoran dan pergerakan tanah lateral sering terjadi secara berulang ulang pada beberapa ruas jalan, yang mengganggu kelancaran arus transportasi antar beberapa kabupaten. Penulis mengharapkan sebaiknya usaha sinergi antara unsur akademis,, teknokrat dan pemerintah daerah perlu terbina secara baik untuk melakukan kajian-kajian geoteknik lingkungan jalan raya. Aceh sebagai daerah yang rawan bencana, perlu dibuat beberapa point aturan penanganan khusus tentang kelongsoran.

        Kata Kunci: Kelongsoran, Storie index, interface,moinsture content, geoteknik lingkungan.

1      pendahuluan

      Road map Kemendiknas  (2013), bahwa penelitian nasional berfokus kepada  peningkatan  pertumbuhan  ekonomi  nasional  maupun  daerah.  Oleh  karena itu  persoalan infrastruktur jalan yang lancar penting untuk penyokong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Apabila  infrastruktur  jalan  rusak dan terputus akibat adanya kelongsoran dimana-mana, maka arus  perpindahan barang dan penumpang  menjadi   terhambat  dan  bemuara  kepada terlambatnya  percepatan pembangunan di sebuah daerah.
Persoalan  pada ruas Jalan Lipat  Kajang  - Batas  Sumut Kabupaten Aceh Singkil, yang  mencapai panjang 30 Km  dengan lebar  5 m,   pada  Sta. 633+550 sampai Sta. 678+695, kondisi geografis jalan  merupakan  daerah pengunungan dan perbukitan yang kondisi tanahnya yang rentan terhadap perubahan kadar air (moisture content), paper  ini ditulis dari hasil penelitian pada lokasi Sta. 669+750, lay out dan         peta coutour lokasi diperlihatkan dalam Gambar 1.1.  Kondisi jalan tersebut sudah lama mengalami kelongsoran yang sangat parah dan telah dilakukan usaha penanganan beberapa kali sampai kepada pemasangan bronjong (gabion) dalam skala volume cukup besar,  tetapi tetap akhirnya mengalami amblas kembali dan disertai kelongsoran seperti diperlihatkan dalam Gambar 1.2.   Ruas     jalan Lipat Kajang  ke  arah   Sibolga   di    sisi


Gambar 1.1  Hasil Pengukuran topografi pada
                       Lokasi Penelitian. Idrus ( 2013)

sebelah kanannya merupakan  bukit yang digali  atau merupakan daerah cut and fill, dengan sudut lereng 70o  dan tinggi  lereng berkisar  10 – 20 m.


Gambar 1.2 Kondisi Kelongsoran pada Lokasi   
                      Penelitian.
                      Munirwansyah, Idrus, (2013)

Hasil pemeriksaan site condition dan sub surface investigation yang dilakukan dengan menggunakan sondir dan hand bor serta pemeriksaan sifat-sifat  fisis dan mekanis tanah di laboratorium, menunjukkan bahwa jenis tanah  pada lapisan atas  merupakan lempung berlanau (lunak), lapisan tengah  berupa  pasir berlanau dalam kondisi lembab dengan plastisitas rendah, lapisan bawah pasir bercampur lempung (padat) non plastis. Sebelah kiri merupakan lereng dengan   kemiringan  slope berkisar 60o – 70o  dan  ketinggian lereng bervariasi dari 15,0 M sampai 22,0 M.  
Hasil survey pada bulan 21 Juni 2013,    kondisi  jalan  tersebut  diatas  mengalami  penurunan cukup besar dimana bahu  jalan  longsor. Badan  jalan  mengalami penurunan yang  sudah dikatagorikan dapat  membahayakan  keselamatan  pengguna jalan. Dalam waktu dekat apabila kondisi tersebut dibiarkan dan tidak  adanya  penanganan  yang  tepat,  dikhawatirkan  akan terjadi longsor   kembali pada seluruh badan jalan yang  tersisa. 

2      kepustakaan


Hal terkait untuk  membahas persoalan kelongsoran, diantaranya perlu diketahui  tentang sifat sifat tanah, kuat geser tanah, tegangan effektif, bentuk-bentuk  kelongsoran; seperti slope failure, toe failure dan circular failure sehingga dapat dipilih mana yang sesuai, kemudian metode analysis finite element dengan menggunakan soft ware Plaxis.

2.1. Jenis dan Karakteristik Tanah
Das (1995), tanah lempung terdiri         dari partikel-partikel mikroskopis dan submikroskopis yang berbentuk lempengan-lempengan pipih dan mineral-mineral yang sangat halus lainnya. Hardiyatmo (2006) menjelaskan bahwa butiran tanah yang mengendap pada suatu larutan suspensi, tak tergantung pada butiran yang lain akan berupa susunan tunggal. Sebagai contoh adalah; pasir, kerikil, atau beberapa campuran pasir dan lanau. Tanah granuler mempunyai sifat berongga dapat mempunyai angka pori yang tinggi.

2.2. Lapisan Tanah
Hunt, RE., (2005), menjelaskan bahwa umumnya lapisan tanah yang disebut lapisan yang lunak adalah lempung (clay) atau lanau (slit) yang mempunyai harga pengujian penetrasi standar (Standard Penetration Test)  N<4 atau tanah organis seperti gambut yang mempunyai kadar air alamiah yang sangat tinggi. Demikian pula lapisan tanah berpasir yang dalam keadaan lepas mempunyai harga N<10 diklasifikasi sebagai lapisan yang lunak. Biasanya sebahagian besar dari lapisan lunak itu telah dibentuk oleh proses alamiah. Tebal, luas dan stratifikasinya sangat tergantung dari corak topografi dan geologi yang membentuk lapisan lunak itu.
Dengan mengetahui sifat sifat tersebut di atas akan memudahkan untuk memahami peristiwa kelongsoran pada lokasi penelitian ini. Contoh profil tanah tersebut dapat diperhatikan dalam Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Profil tanah dari beberapa titik
                    Sondir, Munirwansyah (2012).

2.3. Hubungan Nilai Cone Penetration Test
       (CPT)  dengan sifat Kekerasan Tanah

Bowles (1997) menjelaskan bahwa Cone Penetration Test (CPT) adalah alat uji sederhana yang dipakai untuk menentukan profil kekerasan tanah.  Data yang dikumpulkan ialah tahanan ujung (qc )  dan tahanan gesekan (qs).
Mahler (2004), menjelaskan lapisan tanah memiliki beberapa kedalaman yang sifat mekanisnya dipengaruhi nilai tekanan konus     (qc) dari uji cone penetration test, variasi kekerasan lapisan tanah tertsebut dapat dilihat dalam Tabel 2.1. 

2.1              Kuat Geser Tanah
    Hardiyatmo (2006) mengatakan bahwa kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butiran tanah terhadap desakan atau tarikan. Bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh :
a.        Kohesi tanah yang bergantung pada jenis tanah dan kepadatannya
b.       Gesekan antara butiran tanah yang besarnya berbanding lurus dengan tegangan normal pada bidang gesernya.


Nilai kuat geser tanah yang dikemukakan    oleh Coulomb yang dikutip dari Hardiyatmo (2006) dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
  /data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image1.wmf .................... (2.1)
di mana :
τ   = kuat geser tanah (kg/cm2);
c   = kohesi tanah (kg/cm2);
σ   = tegangan normal pada bidang runtuh  
        (kg/cm2); dan
ø   = sudut geser dalam tanah (o).

Pengujian kuat geser terbagi atas 3 (tiga) metode, yaitu unconsolidated undrained (UU), consolidated undrained (CU), dan consolidated drained (CD). Pengujian metode unconsolidated undrained (UU) dilakukan tanpa adanya kontrol terhadap drainase air pori. Pengujian metode consolidated undrained (CU) dilakukan dengan konsolidasi benda uji dengan tegangan yang terdapat ke segala arah, drainase tidak boleh terjadi pada saat pengujian geser. Sedangkan pengujian metode consolidated drained (CD) dilakukan hampir sama dengan pengujian metode CU, tetapi drainase air pori boleh terjadi selama pembebanan sesudah konsolidasi.
Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan alat Triaksial test dengan metode unconsolidated undrained (UU).
Hardiyatmo (2006) menyatakan bahwa dalam pengujian triaksial unconsolidated undrained, benda uji mula-mula dibebani dengan penerapan tekanan  sel   (tekanan kekang keliling),  kemudian
           Tabel 2.1 : Hubungan CPT dengan Kepadatan Tanah

 
 


Deskripsi Tanah
qc [kpa]
qc
Kc
Α
max pshaft


 [kg/cm2]


[kPa]
Soft clay
qc < 1000
<10
0.4
30
15
Moderately compact clay
1000 < qc < 5000
10-50
0.35
40
80
Compact to stiff clay, compact silt, silt and loose sand, moderately compact sand and gravel
5000 < qc<12000
50-120
0.4
100
120
Compact to very compact sand and gravel
qc > 12000
>120
0.3
150
150
Sumber : seperti dikutip oleh András Mahler (2004)

dibebani dengan beban normal melalui penerapan tegangan deviator (Δσ) sampai mencapai keruntuhan. Pada penerapan tegangan deviator selama penggeseran tidak diizinkan air keluar atau masuk ke benda uji.
Data yang dihasilkan pada percobaan kuat geser dengan alat triaksial berupa hasil pembacaan dial proving ring, di mana sebelum digunakan untuk perhitungan data, dial tersebut dikalibrasi terlebih dahulu ke dalam satuan gaya dengan Persamaan 2.2.

/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image2.wmf ………………… (2.2)
dimana:
P   =   beban geser yang timbul (kg);
d   =   angka pori pembacaan dial; dan
k   = konstanta kalibrasi (0,7203 kg/satuan bacaan dial).
Pada percobaan dengan menggunakan alat Triaksial terdapat 2 (dua) tegangan normal, yaitu tegangan normal yang diperoleh dengan menggunakan persamaan tegangan atau tegangan   normal  mayor dan   tengan   normal



 yang diberikan pada saat percobaan atau tegangan normal minor. Untuk menghitung nilai tegangan normal mayor, dapat digunakan persamaan (2.3) dan (2.4) berikut:

/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image3.wmf ……….……….. (2.3)
/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image4.wmf   ……………………. (2.4)
dimana:
σ1    = tegangan normal mayor (kg/cm2);
σ3     = tegangan normal minor (kg/cm2);
Δσ1 = tegangan deviator (kg/cm2);
P     = beban geser yang timbul (kg); dan
A   = luas tampang sampel tanah yang telah dikoreksi (cm2).
            Nilai regangan tanah adalah perbandingan terbalik antara perubahan tinggi dan tinggi awal yang dirumuskan dalam Persamaan 2.5.

/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image6.wmf………………. (2.5)
dimana:
ΔL  = perubahan tinggi (cm); dan
L     = tinggi mula-mula (cm).

Penggambaran tegangan selain dengan diagram Mohr, ada satu metode yang memungkinkan penggambaran hasil percobaan yang dilakukan. Bowles (1986) menyatakan  dengan memakai koordinat tegangan atau jalur tegangan (stress path) . Jalur tegangan adalah garis yang menghubungkan titik-titik puncak yang menerangkan tegangan sesaat pada elamen tanah. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menentukan p dan q. Nilai p adalah nilai tegangan normal dan q adalah nilai tegangan geser maksimum. Nilai p dan q diperoleh berdasarkan persamaan (2.6) dan (2.7) berikut ini:

/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image7.wmf ………………. (2.6)
/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image8.wmf ……………….. (2.7)
dimana:
p   = tegangan normal (kg/cm2); dan
q   = tegangan geser maksimum (kg/cm2).

Garis-garis yang meghubungkan titik-titik tegangan membentuk sudut 450 dengan garis horizontal dan memotong sumbu horizontal pada titik yang mewakili tegangan utama σ1 dan σ3. Kondisi jalur tegangan pada uji triaksial diperlihatkan pada Gambar 2.2.
Berdasarkan persamaan (2.6) dan   (2.7),  serta

Gambar   2.2.  Grafik  Kondisi  Jalur Tegangan yang
                   Mewakili, Hardiyatmo  (2006)
 
 









grafik kondisi jalur tegangan, maka dapat diperoleh nilai parameter kuat geser berupa nilai kohesi (c) dan sudut geser (ø) dengan Persamaan 2.8 dan 2.9.

/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image9.wmf.……...     (2.8)
/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image10.wmf…………………   (2.9)
dimana:
ø   = sudut geser (0);
c   = nilai kohesi (kg/cm2);
α   = sudut dari garis selubung kegagalan (0);
a   = jarak antara garis selubung terhadap
       bidang p (cm).

2.2.            Pola keruntuhan lereng
            Material pembentuk lereng mempengaruhi bentuk bidang keruntuhan. Pada tanah homogen umumnya bentuk bidang keruntuhannya adalah rotasional, sedang pada lereng yang memiliki lapisan tanah lunak bidang keruntuhannya akan berbentuk
translasional. Bentuk-bentuk pola keruntuhan diperlihatkan pada Gambar 2.3.
Arief (2007), mengklasifikasi longsoran dalam bentuk lain berdasarkan pergerakan massa runtuh tanah dalam bentuk bentuk; gelincir (sliding), runtuhan (falling), gulingan (toppling) dan aliran (flowing).

/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image3.jpeg
Gambar 2.3  Beberapa Jenis Pola Keruntuhan
                   Idrus (1996)

Gelincir (sliding) merupakan pergerakan massa ke arah bawah dan ke luar yang disebabkan oleh tegangan geser yang bekerja pada permukaan runtuh melebihi tahanan  geser yang dimiliki oleh material pada permukaan runtuh. Dua tipe utama dari longsoran tipe gelinciran, yaitu: gelinciran rotasional (rotational sliding) merupakan longsor dengan bidang runtuh yang cekung, rotasional (rotational sliding) dan coumposed slides merupakan longsoran dengan bidang runtuh yang   cekung keatas. Translational slides merupakan longsor pada elemen slope
yang terlepas dari lereng yang terjal seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3.


                                                                            
2.3            Faktor Keamanan
        Parameter yang dihasilkan dalam analisis stabilitas lereng adalah bentuk bidang keruntuhan dan faktor keamanan (FK), sedangkan untuk menaikkan kekuatan tanah maka lereng dapat diperkuat dengan tiang pancang atau sheet pile sehingga lereng akan menjadi lebih stabil. Faktor keamanan digunakan untuk mengidentifikasi stabilitas lereng yang didefinisikan sebagai perbandingan antara kuat geser tanah (shear strength)  dan tegangan geser (shear  stress)  yang bekerja pada masa tanah,  seperti direkomendasi Duncan dan Buchignani, seperti dikutip Idrus (2013), besarnya faktor keamanan dapat dihitung dengan persamaan (2.10) dan pertimbangan seperti diperlihatkan pada Tabel 2.2.


            Shear strength
           FK   =  -------------------   ……… (2.10)
                  Shear   stress  

  dimana   :
  FK >   1   menunjukkan  lereng  stabil
  FK <   1   menunjukksn  lereng  tidak  stabil
FK=    1   menunjukkan  lereng  dalam 
                keseimbangan  batas      ktitis



Tabel 2.2.   Faktor Keamanan

Biaya dan resiko keruntuhan lereng
Nilai FK dengan keakuratan pengukuran data
Kecil1)
Besar2)
Tidak berbahaya terhadap kehidupan atau property lain bila lereng runtuh
1,25
1,50
Berbahaya bagi kehidupan atau property lain bila lereng runtuh
1,50
2,00

Keterangan:

1.    Kecil jika kondisi tanah seragam dan data konsistensi, karakteristik kuat tanah tersedia dengan baik.
2.    Besar jika kondisi tanah kompleks dan jika data konsistensi, karakter kekuatan tanah tidak tersedia dengan baik

2.4           Keruntuhan Lereng
Keruntuhan lereng merupakan masalah yang dihadapi sejak zaman dahulu, di mana aktifitas manusia maupun alam mengakibatkan berkurangnya kekuatan geser material pembentuk lereng, bertambahnya tegangan geser pada lereng, ataupun kombinasi dari keduanya. Faktor penyebab tanah longsor, antara lain tergantung kepada meliputi tekstur tanah, geomorfologi dan kondisi lereng atau tutupan catchment area. Faktor tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi stabilitas lereng, menentukan daerah rawan tanah longsor.
2.5       Penyebab keruntuhan lereng
          Faktor  penyebab keruntuhan lereng dapat disebabkan oleh; meningkatnya  tegangan  geser yang bekerja atau menurunnya kuat geser tanah  pada  bidang gelincir, diantaranya dipengaruhi oleh:
1.          Berkurangnya  daya  dukung  lereng  disebabkan  erosi, gerakan  lereng  alami dan   aktifitas  manusia.
2.        Penambahan  beban  yang  berlebih  disebabkan  kondisi  alam  dan  aktifitas  manusia.
3.        Pengaruh  terjadinya  gempa  atau  sumber  getaran  lainnya.
4.        Pemindahan  material  pada  keliling  dasar  lereng  disebabkan   aliran curah  hujan dan  aktifitas  manusia  dan  hilangnya  kuat  geser  tanah  disekeliling  dasar  lereng.
5.        Meningkatnya  tekanan  tanah  lateral  disebabkan  retakan-retakan  tanah, beban  yang  bekerja  disekitar  lereng  dan  mengembangnya  tanah  lempung.
6.        Peningkatan kandungan air tanah pada bidang gelincir.

2.6       Analisa Stabilitas Lereng
       Das (1985) Analisis stabilitas lereng merupakan suatu analisis  guna memeriksa keamanan lereng alamiah, lereng galian maupun lereng timbunan. Faktor  yang perlu dilakukan pemeriksaan adalah   menghitung dan membandingkan  tegangan geser  yang  terbentuk sepanjang permukaan retak yang paling kritis dan kuat geser tanah.

2.7  Analisis Longsor dengan Metode    
      Element Hingga menggunakan PLAXIS

       Brinkgreve dan Vermeer (1998), menggunakan metode elemen hingga untuk memecahkan masalah analisa deformasi tanah  di dalam beberapa kasus keruntuhan dalam lingkupan geotechnical engineering, dapat dilakukan dengan pendekatan matematis melalui prosedur komputer. Plaxis menurunkan persamaan elemen hingga diformulasikan dan digerated dengan demikian cara yang sangat baik sehingga memperkecil kemungkinan kesalahan, sehingga metode ini sangat dipercaya oleh para ahli geoteknik hingga saat ini. Di dalam mekanika tanah biasanya digunakan dua tipe analisa yaitu analisa undrained dan analisa drained. Pada penggunaan program PLAXIS selama perhitungan digunakan analisa undrained. Dalam analisa undrained, tanah diasumsikan dalam keadaan saturated dan menggunakan asumsi plane strain.  
Nilai modulus elastisitas tanah dalam keadaan undrained menurut Brinkgreve dan Vermeer  (1998) dapat dihitung dengan persamaan 2.11.

           Eu =   ……..…(2.11)                             …………………. (2.12)
dimana:
       Eu = modulus elastisitas kondisi    
                undrained (t/m2);
       Cu = undrained shear strength (t/m2);
       IP  = indeks plastisitas (%).

Program PLAXIS menghasilkan beberapa output sebagai berikut.:
  1. Deformed mesh
  2. Total displacement.
  3. Active pore pressure terdeformasi.
  4. Vertical displacement
  5. Horizontal displacement
  6. Total stresses
  7. Effective stress
  8. Mean stress adalah tegangan normal dari langkah perhitungan yang ditampilkan dalam bentuk shading.
  9. Relative shear stress adalah memberikan petunjuk dari dekatnya titik tegangan ke  failure envelope.


3. METODOLOGI.

       Pengujian sifat-sifat fisis tanah meliputi pengukuran berat jenis (Specific Gravity), berat volume (Density), kadar air alamiah     (moinsture content),  batas-batas Atterberg, dan analisa butiran (Grain Size Analysis), metode standard dan jenis-jenis uji            sifat-sifat fisis dan sifat-sifat mekanis             di laboratorium yang  dilakukan, seperti diperlihatkan  dalam   Tabel 3.1,               Khusus  untuk pengujian sifat mekanis tanah    dilakukan percobaan direct shear, triaxial    dan consolidation, semua pengujian    dilakukan berdasarkan standar ASTM.

Tabel 3.1. Metode Uji Laboratorium untuk
                 menentukan sifat Fisis dan sifat   
                 sifat Mekanis

Untuk menganalisis stabilitas lereng dilakukan dengan cara trial dan error terhadap pemodelan kemiringan sudut lereng (slope) timbunan di atas interface,  perhitungan collapse calculation menggunakan program Plaxis Version 7, seperti diperlihatkan pada matrik Tabel 3.2 dan Tabel 3.3. Tahapan input PLAXIS, adalah sebagai berikut:
1.                  Pemilihan jenis analisis dan elemen;
2.   Pemasukan geometri dari lereng.
3.   Pemasukan propertis material dan jumlah lapisan tanah serta bentuk lereng;
4.   Penyusunan jaring elemen (mesh) secara keseluruhan
5.   Pemasukan kondisi awal muka air tanah;
6.   Jalankan dari tegangan awal dari proses analisis.
7.   Jalankan tahap perhitungan.







Tabel 3.2.   Matrik Kajian collapse/failure
     Tabel 3.3  Matrik Model  Triall & Error


3.1. Collapse Calculation
Tahapan Interpretasi kelongsoran pada lokasi penelitian ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dilakukan bantuan Plaxis untuk melakukan perhitungan collapse calculation dengan batasan batasan yang berlaku, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Kondisi awal merupakan kondisi perhitungan pada saat beban belum bekerja. Pada kondisi ini dihitung adalah akibat beban berat sendiri. Pada kondisi awal dipilih gravity loading, dikarenakan hanya dihitung berat tanah.
2.      Jenis kalkulasi yang digunakan adalah tahapan konstruksi (stage construction). Pada tahapan konstruksi, parameter ΣMweight dan ΣMload diaktifkan pada tahap beban dianggap sudah bekerja.
3.      Perhitungan deformasi dan penurunan total menggunakan pilihan load advancement ultimit level. Dari perhitungan ini diperoleh gambaran penurunan total (total displacement) yang terjadi pada lereng tersebut.
4.      Analisis faktor keamanan (safety factor) pada lereng terdapat pada prosedur manual control load advanced number of step dengan pilihan phi-c reduction yang tersedia pada perhitungan kondisi plastis.
5.      Proses kalkulasi angka keamanan atau safety factor (SF).

3.2. PLAXIS Out-Put
       Tahap keluaran data adalah tahap hasil yang diperoleh dari hasil kalkulasi Plaxis. Hasil yang diperoleh pada tahap keluaran data adalah:
1.        Kalkulasi angka keamanan yang diperoleh dari grafik hubungan SMsf dan displacement.
2.        Gambaran arah gelinciran lereng (deformation) dan permukaan bidang gelincir (slipe surface) yang ditunjukkan dari penurunan total (total displacement).
3.   Dihasilkan: Gambar gambar deformasi,    Geometri lereng, dan lain yang diperlukan.  




4. HASIL DAN ANALISIS

4.1 Sifat Fisis dan Mekanis tanah

       Dari hasil uji laboratorium diperoleh data sifat fisis dan sifat mekanis tanah yang diperlukan untuk analisis plaxis, diperoleh  dalam Tabel 4.1 dan Tabel 4.2.

Tabel 4.1. Sifat Fisis Tanah

 

Tabel 4.2. Sifat Mekanis Tanah
 




     Bringrive, RBJ., (1998), menggunakan data material properties dalam tabel tersebut diatas untuk diinputkan ke dalam page control tabel sheet, selanjutnya dilakukan proses (running programe) sehingga diperoleh  berbagai out put sesuai dengan keperluan analisis sebagaimana telah diuraikan pada     sub bab 2.7, bahwa ada 9 buah hasil Plaxis yang dapat dikeluarkan.

4.2 Gradasi Tanah

Susunan gradasi tanah pada lokasi kelongsoran dominan terdiri dari material granular sebanyak 50 – 82%, lihat Gambar 4.1.
     
Gambar 4.1. Susunan Gradasi Tanah.
 



Gambar 4.2. Bentuk Penampang dalam  
     kondsisi existing.



Hasil pengukuran bentuk penampang (existing cros section) sesuai site condition diperlihatkan dalam Gambar 4.2.   Penampang tersebut kemudian dimodelkan dengan berbagai kualitas material dan beberapa sudut kemiringan lereng yang di beda-bedakan variasinya dan dihitung dengan cara trial      and error.
 Gambar 4.3.  Bentuk Finite Eldement
                       Deformed Mesh dan
                          Kecendrungan Displacement   
                       Increament .

Hasil dari masing masing model tersebut dianalisis dan dikaji bentuk bentuk gambar berwarna dari output Plaxis dengan memperhatikan orientasi kerutuhan (slope failure) yang ditunjukkan melalui perbedaan perbedaan warna (shading), deformasi mesh, arah arah tanda panah deformasi (arrow),  dibandingkan dengan data uji laaboratorium serta kondisi lapanga dapat diambil kesimpulan. Diantara bentuk bentuk bentuk kelongsoran slope yang       telah diidentifikasi dapat dilihat dalam Gambar- gambar  4.3 dan Gambar 4.4.
Dalam Gambar 4.3, diperlihatkan bentuk Finite Eldement Deformed Mesh yang terbentuk dalam penampang dengan asumsi plane strain dan  kecendrungan  arah gerak deformasi dari kelongsoran timbunan badan jalan tersebut.        
Dalam Gambar 4.3, diperlihatkan bentuk Finite Eldement Deformed Mesh yang terbentuk dalam penampang dengan asusmsi plane strain dan  kecendrungan  arah gerak deformasi dari timbunan badan jalan        dalam mengalami displacement increament. Sedangkan dalam Gambar 4.4, diperlihatkan gambaran total displacement yang terbentuk dalam bentuk bayangan warna (shading) untuk memudahkan orientasi distribusi tegangan dalam tubuh timbunan.


    Gambar 4.4.  Bentuk Shading Total
                         Displacement Increament.
5. KESIMPULAN dan SARAN

Kesimpulan:

1.       Ditemukan interface di bawah subgrade preparation atau leveling subgrade dalam kondisi berpotensi terjadi gelincir, terbentuk block slide potential, lihat output plaxis yang menggambarkan arahah errow displacement (Gambar 4.3).
2.       Kelongsoran terjadi diantaranya karena terdapat potensi aliran air tanah yang terakumulasi dan terbiarkan dalam timbunan, ditemukan aliran air pada lereng timbunan yang longsor dan terdapat fenomena boilling pada bagian bawah dari kaki slope. Dalam laporan soil investigasi ditemukan data kondisi tanah dalam keadaan lembab (pada hal saat dilakukan investigasi cuaca dalam keadaan kering).
3.      Trase jalan pada lokasi penelitian dibangun tanpa mengindahkan  kaedah kaedah stabilitas lereng (slope stability), tidak memperhatikan azas azas dasar perilaku tanah (soil behavior) dan prinsip-prinsip dasar ilmu mekanika tanah (Critical State of Soil Mechanics). Kondisi yang sama juga terdapat pada beberapa lokasi lain di sepanjang ruas jalan Nasional di pantai barat dan wilayah tengah provinsi Aceh.
4.       Hasil pengujian martiel resistivity ditemukan adanya dua lapisan tanah dengan nilai resistivity yang berbeda,  yaitu 1532,0 Ώ dan 111,4 Ώ dengan tahanan konus qcrata-rata = 120 kg/cm2 yang dapat diinterpretasi bahwa itu merupakan interface yang dapat menjadi bidang gelincir (sliding line).
5.      Pada saat penelitian lapangan dilakukan padahal musim kemarau, dari sampel tanah undisturbed yang di uji di laboratorium, diperoleh sifat sifat fisis seperti; kelembaban tanah dengan kadar air di atas 12% yakni mencapai 16,03 % hingga 16,7 % dan batas cair 18,6%. Pada kondisi demikian tanah menjadi loose of strength yang memicu kelongsoran.
6.       Kuat geser tanah yang terjadi pada slipe surface mengecil di bawah ultimate shearing strength, dari output plaxis,  diperlihatkan bahwa sesuai properties tanah di lapangan saat mengalami kelongsoran (failure) kuat gesr tanah telah mencapai extreme effective stress hanya memiliki tegangan effektif  25,79 kg/m2.

Saran:
Untuk masa mendatang diharapkan demi keselamatan jiwa manusia dan menghindari kerugian Negara, timbul kesadaran bagi  sipemangku kepentingan, agar untuk membangun konstruksi konstruksi teknik sipil yang menyangkut dengan ilmu mekanika tanah, perencanaanya agar diserahkan kepada ahli ahli geoteknik untuk mendapatkan rekomendasi yang dapat dipertanggung jawabkan secara teknis dan di depan hukum.


REFERENSI

Arief, S., (2007), Dasar-dasar Analisis Kestabilan Lereng, viewed 10 Mei 2007, Available from Internet <http://www. scribd.com>, Sulawesi Selatan.
Brinkgreve, RBJ.,  Vermeer, PA., 1998, PLAXIS, Versiuon 7, AA Belkema Rotterdam/Brookfield.
Coduto, Donal, P., 2001, Foundation Design, Principles and Practise, Second Edition, Prentice-Hall, Inc., New Jersey.
Das, B. M., (2006), Mekanika Tanah, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta
Hausman, M.R., 1990. Engineering Principle of Ground Motion, International Edision, Mc Graw Hill, Inc, Singapore.
Hunt, RE., 2005, Geotechnical Engineering Investigation Handbook” Taylor & Prancis grup, USA.
Hardiyatmo, 2006, Mekanika Tanah I, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ingles,O.G., Metcalf,J.B., 1972, Soil Stabilization Principles and Practice”, Butterwoths, Sydney.
Idrus, T., (2013), Proposal Thesis, Program Magister Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.
Mahler, A, 2004, Use Of Cone Penetration Test In Pile Design, Department of Geotechnics Budapest University of Technology and Economics H–1521 Budapest, Hungary.
Munirwansyah, (2011), Hasil Interpretasi kontur Lapisan Bawah Permukaan (Bearing Layers) dengan Menggunakan Sofwer SURFER, untuk Perencanaan Konstruksi Geoteknik Bangunan Teknik Sipil. Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Unsyiah, Banda Aceh.
Munirwansyah, (2012), Proceeding Seminar dan Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (PIT-HATTI) Hotel Borobudur Jakarta.
Wood, DM., 1990, Soil Behaviour and Critical State Soil Mechanics, Cambridge University Press, USA.

Yoder, EJ., Witczak MW., 1975, Principles of Pavement Design, Second edition, John Willey & Sons Ing. USA. 

1 komentar:

  1. sukses terus blognya prof.
    saya tunggu untuk update info penelitian terbau prof.
    .

    BalasHapus