Jumat, 30 Januari 2015

Geotechnic Earthquake Conference, PIT-HATTI JAKARTA


Profile Anggota Senat Universitas Syiah Kuala


STORIE INDEX DAN ANALISIS LANJUTAN PENYEBAB KELONGSORAN JALAN NASIONAL PADA LERENG PEGUNUNGAN MEDANG RUAS BANDA ACEH - MEULABOH PROVINSI ACEH Munirwansyah 1) , Reza P. Munirwan 2) 1) Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala 2) Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala e-mail: nir_geotechnical@ymail.com; nir.geotechnical@gmail.com.

Problema kelongsoran dapat diselesaikan dengan berbagai solusi, salah satu cara yang sangat mendasar yakni dengan pendekatan storie index. penyebab kelongsoran diantaranya diakibatkan oleh terjadinya pergerakan tanah  ketika kuat geser tanah menurun sedangkan kuat gesernya lebih besar yang terakumulasi pada bidang runtuh yang kemudian disebut slip zone. Pada bidang ini  terjadi penurunan kuat geser tanah (lost of shear strength), diantaranya diakibatkan oleh karena meningkatnya kandungan air tanah. Aktivitas manusia dalam mengekploitasi hutan, siklus cuaca dapat juga mengakibatkan kelongsoran. Beberapa faktor alam dominan yang dikenal dipakai untuk menganalisis kelongsoran disebut storie index,  yakni; climate, topography, land vegetations, soil and man.  Peristiwa kelongsoran dapat mengancam kehidupan manusia, hilangnya harta benda dan rusaknya berbagai infrastruktur disekitarnya yang bernilai cukup mahal. Kerugian lain secara umum dapat mengganggu kelancaran roda perekonomian dan kegiatan pembangunan. Menyadari hal tersebut Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional telah mengikutkan masalah kelongsoran ke dalam Roadmap penelitian yang penting untuk diteliti dan didiskusikan oleh berbagai pemangku kepentingan.  Hasil analisis storie index pada lokasi kelongsoran, diperoleh data bahwa; topography setempat merupakan lereng gunung curam - dataran yang bersisian bukit - lereng terjal lautan bekas penebangan hutangenangan curah hujan  - rembesan air tanahjenis tanah expansive dan pelaksanaanya kurang paham pada kaedah geoteknik. Pada bagian jalan longsor merupakan daerah galian (cut) yang geometriknya dibangun pada slope bukit, pada lereng terdapat rekahan tanah sejajar trase selebar 20-50 cm. Beberapa pohon yang tumbuh pada lereng tersebut daunnya mengering, mati. Indikasi ekploitasi hutan mencapai 70% dari luas  catchman area dalam keadaan gundul, geometri slope dengan lereng άavg= 31o. Untuk meneliti bentuk penampang longsor dan profil tanah, telah dilakukan sub-surface investigation 3 titik sondir dan 1 titik hand-bor untuk mengambil contoh tanah dan meneliti index properties dan sifat mekanis tanah. Aspek geoteknik penyebab kelongsoran pada lokasi ini diakibatkan oleh fenomena  pergerakan massa tanah pada bidang interface, terdapat aliran air phreatic yang terputus oleh galian tanah, jenis tanah merupakan expansive soil (tanah mengembang) dengan PI=22.15% yang berpotensi mengikat air dan tanah menjadi jenuh (saturated). Tanah selalu basah, dalam kondisi jenuh effective stress dan kuat geser tanah subgrade mengalami lost of shear strength, sehingga pada kondisi tersebut massa tanah dan konstruksi jalan yang terdapat di atasnya bergerak dan putus mengalami lonsor-translasi menelusuri sepanjang bidang interface. Ditemukan interface formasi batu cadas dengan nilai CPT >120 kg/cm2 yang miring ke sisi laut. Dapat pula disimpulkan bahwa perencanaan geometric pada ruas jalan ini, siperencana dan sipelaksana tidak bijak dalam mencermati data tanah dan menginisiasi prinsip geoteknik.

Kata Kunci: Storie Index, Kelongsoran,  Interface, lost of shear strength, Expansive soil.











1. PENDAHULUAN

Analisis storie index ini merupakan kajian lanjutan yang dilakukan dalam penelitiuan kasus kelongsoran dan translation fault pada badan jalan di lokasi gunung medang yang lebih fokus pada faktor tersebut di atas. Pada banyak  kasus-kasus kelongsoran atau pergerakan tanah lateral pada lereng-lereng yang terjadi dalam wilayah pegunungan Aceh yang juga banyak muncul di dimana-mana dalam wilayah pegunungan Aceh.
Pengamatan penulis bahwa peristiwa  kelongsoran yang diakibatkan oleh pergerakan tanah lateral pada lokasi ini cukup komplek, solusi pemecahannya perlu melibatkan disiplin ilmu lainnya, seperti; kehutanan, pertanian, lingkungan, sosial budaya dan perilaku manusia. Efek dari kelongsoran pada ruas  jalan ini telah mengganggu kelancaran arus lalu lintas dan jalur perekonomian menuju  pantai barat Aceh. Karena ruas jalan ini merupakan jalan nasional, maka dampaknya juga mempengaruhi kondisi sosial politik    dan pembangunan ekonomi daerah yang merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Dalam paper ini selanjutnya akan di bahas tentang problema kelongsoran dan lateral force serta mekanisme penurunan nilai kuat geser  (τ) pada bidang runtuh (slip-line)  yang juga merupakan kajian lanjutan pada penelitian kerusakan berulanjut pada lokasi gunung Medang dan sekitarnya.
Munirwansyah dkk., (2012), telah menggambarkan bahwa trase jalan pada lokasi penelitian merupakan daerah lereng galian (cut).  Kiri kanan trase jalan pada arah Banda Aceh-Meulaboh merupakan lereng bukit di sebelah kirinya dan merupakan galian-timbunan (cut and fill) di bagian lereng kanan  (yang juga merupakan jurang ke arah lautan (Samudra Indonesia) dengan kemiringan lereng > 45%. Kondisi lereng gunung di sebelah kiri merupakan lereng berbentuk lembah sehingga trase jalan pada lokasi ini merupakan tikungan yang mengikuti bentuk lembah berbentuk spiral-spiral. untuk memperoleh daerah penguasaan jalan pada tikungan, maka pada sisi-sisi gunung dilakukan pemotongan. Sedangkan dalam daerah lembah pada ketinggian 14.00 M dari permukaan jalan merupakan areal garapan tanaman palawija yang datar kemudian semakin menurun ke arah terdapanya trase jalan yang mengalami longsor, permukaan    tanah merupakan lereng alam dengan kemiringan berkisar 25 sampai 42 %. Daerah lembah ini merupakan konsentrasi air perkolasi dengan phreatic-line kurang   dari 1.00 M di bawah permukaan tanah pada  lereng  bukit setempat  seperti  diperlihatkan          dalam  Gambar 1.

                          Wet Zone
                          (basah)

Phreatic line             expansive soil
 
       
         Gambar 1. Kondisi Galian yang       
                             menunjukkan batas saturated
                             zone dan phreatic line.
                                Munirwansyah dkk., (2012)

Seperti yang disampaikan Munirwansyah,  dkk., (2012) bahwa kondisi tanah hampir selalu jenuh hingga musim kering. Permukaan air bawah permukaan (phreatic-line) bermuara pada daerah tikungan bagian cembung, dimana pada lokasi ini juga terdapat patahan         geser translasi akibat massa tanah yang bergerak secara lateral ke lereng  arah laut. Kondisi lapisan tanah pada lokasi trase jalan ini, dijumpai lapisan lempung yang sangat plastis PI=22.15% dan sangat mudah menarik air sehingga shearing strength nya menurun drastis pada saat kandungan air tinggi menjadi jenuh (saturated).  
Das, B.M., (2006), pada kondisi tersebut di atas  tanah mengalami swelling  dan menjadi      labil  dalam menahan beban secara vertikal maupun lateral. Seperti diperlihatkandalam lay-out lokasi Gambar 2 dan potongan (A-B) dalam Gambar 3, tanah dan subgrade tersebut berada di atas lapisan tanah keras  yang dangkal (2,00-5,00 M) dengan interface miring, pada kondisi tersebut lereng sangat rentan dan mudah sekali mengalami pergeseran ke arah yang lebih rendah.

 



    Gambar 2. Situasi trase jalan dibangun
                       melalui dalam zona berpotensi                  
                       longsor.
                       Munirwansyah dkk., (2002)

Pada kondisi air tanah meningkat hingga air terakumulasi mencapai kondisi jenuh (saturated) tegangan efektif tanah secara gradual menurun dari tegangan totalnya,    pada bidang geser/gelincir miring tersebut dapat  memicu terjadinya kelongsoran.    Situasi dari trase jalan yang mengalami patahan dan kelongsoran pada lokasi             ini diperlihatkan dalam  Gambar 3,         sedang penampang longsor diperlihat       dalam Gambar 3.

Cross Section A-B (Gambar 2)

 







    


Gambar 3. Potongan Melintang A-B yang               
                  memperlihatkan interface dan
                  blok geser tanah yang
                  mendorong badan jalan dan
                  mengalami longsor
                  (Munirwansyah, 2002).

2. STORIE INDEX

Hunt, R.E., (2005), Penyebab lain pemicu sebuah kelongsoran adalah dari faktor manusia (man), para operator pelaksana dilapangan yang kurang mengerti problema mekanika tanah, kemudian membuang tanah hasil longsoran pada pinggir  jalan di area longsor  dapat membendung air limpasan di atas permukaan jalan, hal tersebut juga dapat memicu kelongsoran.
Hasil penelitian Munirwansyah, dkk., (2002), pada lokasi kelongsoran juga tidak ditemukan adanya sistem drainase bawah permukaan (sub-drain) yang seharusnya dibuat untuk menurunkan permukaan air dalam tanah (pheriatic-line). Dalam perencanaan dan pelaksanaan sebagaimana kondisi yang   dilihat di lapangan tidak ditemukan        adanya longitudinal sub-drain yang sebenarnya dapat menghambat fenomena kelongsoran di sini.
Hunt, R.E., (2005), sesuai dengan teori     Storie Index yang dijelaskannya bahwa pergerakan tanah (L) adalah merupakan  sebuah fungsi dari berbagai faktor penyebab kelongsoran, yang dirangkum kedalam sebuah fungsi ( f , seperti diiperlihatkan dalam persamaan (1).

 ……(1)


Dimana i adalah climate, r adalah topography,           v adalah land vegetations, t adalah jenis    tanah dan m adalah faktor sumber daya manusia.


3. SITE CONDITION

Kondisi setempat (site condition) di sekitar lokasi kelongsoran pertama            STA. 108.400 (STA.lama), berikutnya mengalami kelongsoran dan patahan geser lateral pada badan jalan dengan penyimpangan garis as jalan mencapai 30 cm yang bergerak              ke arah lembah dan laut.
Wood, DM., (1990). dari data penyelidikan  dan interpretasi lapisan tanah pada lokasi      ini terdapat subgrade  jenis tanah lempung dengan nilai PI ∞ 22% dengan kandungan mineral lempung monmorillonite dengan    luas permukaan partikel lempengan (specific surface)  yang besar. Faktor penyebab menurunnya kuat geser tanah akibat meningkatnya kandungan air pori dapat      juga dilihat dalam beberapa literatur lainya yang juga penulis baca dalam menganalisis persoalan kelongsoran, seperti disampaikan oleh Hausman, M.R., (1990) dan Das, B.M., (2006) dan Hardiyatmo (2006).


3.1.  Rembesan Air Tanah

Tercapainya kondisi jenuh air (saturated), pada lapisan lempung di atas interface       telah memicu kelongsoran pada trase         jalan     di  sekitar  lereng  Gunung   Medang,     hal ini terindikasi dari terdapatnya rembesan air yang keluar melalui  permukaan  lereng tanah galian (Cut).  Kemudian air tanah   keluar melalui kaki-kaki lereng yang alkhoirnya menyebabkan terjadinya kelongsoran kelongsoran setempat pada   semua sisi jalan, tanah tanah longsoran tersebut menutupi saluran-saluran drainase setempat. Di atas interface, lapisan lempung sangat mudah mencapai kondisi jenuh (saturated) sehingga pore pressure  meningkat, tegangan efektif dan kuat         geser tanah (shearing strength) secara gradual mengecil.


3.2. Zona Kerentanan Tanah Berlereng

Arief, (2007), seperti dikutip oleh Idrus,        T.,(2013), pada zona dengan  kemiringan lereng alam < 15%, pergerakan tanah sangat jarang terjadi dan lereng tidak terbentuk oleh lempung expansive maupun membentuk formasi onggokan material.

3.2.1. Zona kerentanan tinggi

Dalam zona ini umumnya gerakan tanah  jarang terjadi, kisaran kemiringan lereng dari (5-15%) sampai sangat terjal (50-70%), tergantung sekali pada kondisi sifat fisik      dan mekanis tanah pembentuk lereng,   vegetasi penutup umumnya berupa hutan    atau kebun.


3.2 2. Zona kerentanan sedang

Zona ini mempunyai kisaran kemiringan lereng mulai dari agak terjal (15-30%)    sampai curam >70%, juga sangat tergantung dari pada kondisi sifat fisik dan mekanis   tanah pembentuk lereng, vegetasi penutup kurang.

3.2.3. Zona kerentanan rendah

Pada zona ini pergerakan mempunyai     tingkat kerentanan rendah  untuk terkena gerakan tanah, tidak stabil, sewaktu-waktu terjadi pergerakan lateral.

3.3.  Typical Kelongsoran

      Okumura (2001), merangkum hubungan antara kondisi geologi dengan fenomena masalah landslide atau slope failure seperti diperlihatkan dalam Tabel 1.

  Tabel 1. Klasifikasi Longsor/Keruntuhan   
                 Lereng.


Klasifikasi

Longsor
(Landslide)
Runtuh Lereng
(slope failure)
Geologi
Sering terjadi
Tidak terkait
Karakteristik
Tanah
Pada bidang interface lempung
Pada tanah kepasiran
Topografi
Terjadi pada sudut lereng 5-20 derajat
Terjadi pada sudut lereng >20 derajat
Kecepatan longsor
Lambat 0.001 s/d 10 mm/hari
Sangat cepat
Penyebab longsor
Pengaruh ground water
Curah hujan/ intensitasnya
Skala longsor
Luas
Kecil
Indikasi
Sebelum longsor ada indikasi perkembangan retakan, amblesan dan variasi air  tanah
Terjadi tiba-tiba/tanpa ada tanda

 Sumber: Okumura (2001),


4. HASIL DAN ANALISIS

Okumura (2001), seperti dikutip oleh              Idrus, T., (2013), dari kolom identifikasi  dalam Tabel 1 di atas dan dari crossection lokasi seperti diperlihatkan dalam Gambar 2 dan Gambar 3, diperlihatkan bahwa kasus kelongsoran berlanjut pada sepanjang      lereng Gunung Medang ini, sangat sesuai klasifikasi  longsoran  (landslide), dimana kecepatan gerak longsor lateral relatif kecil < 10 mm/ha.
Hunt, R.E., (2005), seperti disampaikan dalam teori storie index bahwa penyebab kelongsoran  juga diakibatkan oleh persoalan banyak kelalaian manusia (man) yang terlibat, faktor man (m) seperti ditulis  dalam Rumus (1), ditulis sebagai salah satu penyebab kelalaian manusian dalam merencanakan infrastruktur dan kasus kasus kelongsoran,   secara  teoritis  banyak yang diabaikan mereka dan kurang pemahaman terhadap aspek geoteknik lingkungan.

4.1. Bentuk-bentuk Kelongsoran

Untuk menentukan tipe kerunt
uhan, maka didekati melalui bentuk cross-section yang terdapat pada lokasi kelongsoran, penampang tersebut digambarkan berdasarkan data survey lapangan dengan menggunakan sondir sebanyak tiga titiksondir (S0), masing-masing seperti diperlihatkan dalam Gambar 2. Sesuai interpretasi data konus (qc) dari hasil pengujian sondir di titik S0-1,  S0-2 dan  S0-3, maka setelah dilakukan penggambaran profil  lapisan seperti diperlihatkan dalam Gambar 4 dan Gambar 5. Maka dapat diperlihatkan bahwa tipe kelongsoran yang sesuai adalah














                Gambar  4. Tipe-tipe kelongsoran
tipe b) dalam Gambar 4, dan mempunyai interface seperti dalam Gambar 5. Sehingga dapat dokatagorikan bahwa tipe kelongsoran tersebut merupakan kelongsoran galian dengan interface.


    Gambar  5. Crossection hasil interpretasi    
                        Uji Sondir S01, S02 dan S03.

4.2. Gejala  Kelongsoran

Dalam Gambar 5, diperlihatkan diantara gejala kelongsoran tersebut  di tandai dengan ditemukannya rekahan-rekahan memanjang permukaan tanah yang sejajar dengan garis sumbu jalan.  Seperti diperlihatkan dalam Gambar 6,  pada daerah longsoran tanah yang terdapat beberapa batang pohon telah mati karena akarnya ikut bergeser dan akarnya putus pada kedalaman yang mencapai slipe plane.
Beberapa hal lain yang dicermati      sebagai penyebab kelongsoran,  dari hasil investigasi pada lokasi Gunung Medang trsebut dapat dijelaskan  berikut ini.


Gambar 6.   Pohon  mati  akibat     akarnya       
                     putus pada potensial slip plane.

Pada saat air hujan mengalami infiltrasi dan sebagian mengalami perkolasi, pada suatu kondisi massa tanah yang berada di atas interface telah mencapai keadaan jenuh (saturated). Akibat berat sendiri dari massa tanah yang bergerak lateral,  tekanan air pori akan mengalami peningkatan.
Ingles, O.G., Metcalf, J.B., (1972),  bahwa peningkatan air pori () dan meningkanya tekanan pori (u), ternyata memberi pengaruh terhadap kekuatan  geser tanah () setempat, sehingga kuat geser tanah  harganya menjadi kecil disebabkan menurunnya tegangan efektif   tanah () seperti terdapat dalam persamaan (2).

…….(2)

di mana :
τ   = kuat geser tanah (kg/cm2);
c   = kohesi tanah (kg/cm2);
σ   = tegangan normal pada bidang runtuh 
        (kg/cm2); dan
ø   = sudut geser dalam tanah (o).

Tegangan geser tanah pada bidang  geser atau pada interface menjadi lebih kecil dari tegangan geser yang timbul akibat desakan massa tanah yang bergerak, sehingga         tanah berrgeser dan mengalami kelongsoran yang terus menerus dan bahkan dapat terjadi dalam waktu yang lama apabila tidak dilakukan upaya upaya stabilisasi atau perkuatan perkuatan (reinforcement) pada lereng tersebut. 

4.3. Jenis dan Karakteristik Tanah

Dari interpretasi jenis tanah pada lokasi longsor dengan menggunakan teori             Das, B.M., (1995), ditemukan bahwa jenis tanah pada daerah longsor merupakan tanah lempung, tanah lempung adalah tanah        yang memiliki   partikel-partikel mikroskopis       dan sub mikroskopis yang berbentuk lempengan-lempengan pipih dan mengandung        mineral-mineral yang sangat halus lainnya, diantara mineral yang berbahaya bila terdapat dalam material tanah untuk konstruksi teknik sipil adalah; monmorillonite, clorite, ellite dan calsite. Tanah lempung yang mengandung di antara mineral tersebut di atas tidak boleh digunakan untuk material timbunan, jalan raya, trase kereta api, bendungan dan landasan run way terutama pada penanganan kelongsoran. Pemakaian tanah tersebut terlebih dahulu harus dilakukan stabilisasi.
Hunt RE., (2005), menjelaslkan bahwa umumnya lapisan tanah pada lokasi ini     dapat disebut lapisan lunak yaitu lempung (clay) dan lanau (slit) yang mempunyai harga pengujian penetrasi standar (Standard Penetration Test)  adalah N<10 atau tanah organis dan tanah lempung expansive yang mempunyai kadar air alamiah yang           tinggi (dalam kondisi jenuh)  diklasifikasi sebagai lapisan yang lunak. Sebahagian besar dari lapisan lunak yang ditemukan itu mempunyai tebal, luas dan stratifikasinya seperti  diperlihatkan dalam Gambar 2 dan           Gambar 3.  Kondisi stabilitas tanah sangat tergantung pula dari corak topografi dan geologi yang membentuk lapisan tersebut dan perubahan cuaca (climate) setempat.


4.3. Hasil Prediksi Kekerasan Tanah 
       Berdasarkan Nilai Uji Cone Penetration
       Test (CPT),

Bowles, J.E., (1997), menjelaskan bahwa dengan Cone Penetration Test (CPT)         dapat dipakai untuk menentukan profil kekerasan tanah.  Data yang dikumpulkan   ialah tahanan ujung (qc )  dan tahanan     gesekan (qs).     
Mahler, A., (2004),  memberi asumsi terhadap daya dukung tanah berdasarkan nilai        konus (qc) seperti diperlihatkan dalam       Tabel 2, dengan asumsi tersebut maka         jenis dan sifat mekanis tanah dapat digolongkan dari soft (lunak), moderatelly compact (kepadatan sedang) dan           compact soil (tanah padat atau tanah       dengan kekerasan tinggi).
Pada lokasi penelitian ditemukan formasi tanah sebagai subgrade dan tanahb galian  yang  merupakan tanah moderately compacted clay, yang juga mempunyai batas batas atterberg,  yaitu batas cair dan batas plasitis tinggi serta plastik index tanahnya tinggi,    yang akhirnya dapat diiterpretasi mengandung mineral lempung expansive soil.
Tabel 2. Korelasi qc - Diskripsi Tanah 
Deskripsi Tanah
qc [kpa]
qc
Kc
Α
max pshaft


 [kg/cm2]


[kPa]
Soft clay
qc < 1000
<10
0.4
30
15
Moderately compact clay
1000 < qc < 5000
10-50
0.35
40
80
Compact to stiff clay, compact silt, silt and loose sand, moderately compact sand and gravel
5000 < qc<12000
50-120
0.4
100
120
Compact to veryt compct sand and gravel
qc > 12000
>120
0.3
150
150
Sumber : seperti dikutip oleh András Mahler (2004)


Tanah mngandung mineral monmorillonite  dengan PI = 22 %, mempunyai spesific surface yang besar sehingga dapat mengikat air yang cukup banyak dalam proses swelling (mengembang).

Pada bidang longsor (slip-line), akibat meningkatnya kandungan air dalam          massa tanah pada daerah longsor sampai mengalami tingkat kejenuhan (saturated) mengakibatkan kuat geser tanah (τ)     menurun, seperti diperlihatkan dalam    Gambar 7, beberapa hubungan  terkait antara lain meningkatnya kuat geser tanah apabila nilai kohesi tanah dapat ditingkatkan.



Gambar 7. Penurunan Kuat Geser Tanah
                   pada slip-line dengan variasi
                   nilai C jenuh air.



Pada beberapa kasus perlu dicermati bahwa peningkatan kohesi tanah biasanya diikuti dengan menurunnya nilai sudut geser, kecuali untuk tanah pure sand atau pure clay yang sesungguhnya  tanah semacam itu sulit   didapat dilapangan.
Menurunnya nilai kuat geser tanah akibat tanah mengalami swelling sehingga tanah mengalami penurunan kuat geser naturalnya (lost of strength), dikarenakan  tanah   menjadi
lunak (soft) berubah sifat menjadi seperti pelumas yang memicu kelongsoran pada bidang geser  (slip-line).
Untuk menghindari permasalahan ini maka faktor air tanah perlu ditangani dengan      baik. Secara teknis dapat juga dipasang     sheet-pile pada bagian bawah untuk     menahan gerak lateral tanah, pemancangan sheet-pile kedalamannya harus malampaui bidang runtuh atau melampaui kedalaman  slip-line.
Brinkgreve, RBJ.,  Vermeer, PA., (1998), memberikan banyak cara untuk menghitung dengan menggunakan analisis statistik, beberapa soft-ware untuk melalakukan perhitungan stabilitas telah diberikan dalam teori PLAXIS. Beberapa alternatif cara menghitung juga di berikan untuk pekerjaan stabilitas galian dan timbunan, perencanaan perkuatan perkuatan lereng dengan menggunakan sheet pile, perencanaan dinding penahan tanah, perhitungan pengaruh pemasangan geo-sintetik pada perkuatan lereng rencana galian dan timbunan.


5. KESIMPULAN dan SARAN

5.1. Kesimpulan:

1.       Ditemukan interface di bawah massa tanah yang longsor dan pada natural subgrade jalan tersebut dengan kondisi sangat berpotensi menyebabkan gelincir, terbentuk sebagai block slide potential,
2.       Kelongsoran terjadi diantaranya karena terdapat potensi aliran air tanah yang terakumulasi dan terbiarkan merembes dalam timbunan jalan, ditemukan aliran air pada  lereng timbunan dan air rembesan yang tergenang pada lubang-lubang yang terdapat pada lereng, padahal tidak dalam kondisi hari hujan.
3.       Tanah berwarna kuning muda dan kemerahan dengan nilai plastik indek    (PI) mencapai > 22%, yang mencirikan bahwa tanah lempung yang mempunyai sifat kembang-susut tinggi atau serin g disebut expansive  soil.
4.       Pada kondisi mengembang (swelling) tanah menjadi lost of strength yang menyebabkan memicu kelongsoran pada beberapa bagian dalam ruas jalan ini.
5.       Pada saat terakumulasinya rembesar air perkolasi sampai mencapai bidang interface, kandungan air tanah   lempung  yang menjadi jenuh pada slip-plane berubah sifat seperti pelumas yang memicu massa tanah diatasnya bergeser ke arah kemiringan yang lebih rendah sehingga menimbulkan kelongsoran translasi        dan mendorong badan jalan pada Gunung Medang ini hingga mengalami patah geser.
6.       Kuat geser tanah pada slipe line atau interfase mengecil di bawah ultimate shearing strength, saat hal tersebut terjadi maka kelongsoran (failure) tidak dapat dihindari, pada saat tersebut dimana kuat      geser tanah tersebut telah mencapai extreme effective stress.
7.       Sesuai dengan tiori Hunt, R.E., (2005), seperti disampaikan dalam teori storie index bahwa penyebab kelongsoran  pada lokasi ini merupakan persoalan berjamaah faktor manusia (man) yang terlibat, faktor man (m) adalah salah satui faktor storie index seperti ditulis  dalam Rumus (1).
8.       Dari hasil analisis diperoleh data bahwa tegangan geser tanah pada bidang         interface menjadi kecil dari tegangan geser yang timbul akibat desakan massa tanah yang bergerak seperti ditunjukkan dalam Gambar 6, sehingga di tanah diatasnya       bergeser dan mengalami kelongsoran, kelongsoran yang terjadi dapat terus menerus dan bahkan dapat terjadi dalam waktu yang lama apabila tidak dilakukan upaya upaya stabilisasi atau perkuatan perkuatan (reinforcement) pada lereng sepanjang trase bermasalah tersebut. 
9.       Teori dari Brinkgreve, RBJ.,  Vermeer, PA., (1998), dapat digunakan sebagai salah     satu cara untuk melakukan estimasi, seperti melakukan stabilisasi, pemasangan perkuatan double sheet pile pada salah satu sisi trotoar yang dapat di design dengan baik, pemasangan dinding penahan tanah pada kaki lereng, pemasangan longitudinal sub-drain pada tempat tertentu untuk menurunkan level aliran air phreatic,     serta kemungkinan pemasangan bahan  geo-synthetic pada dinding lereng rencana.

5.2. Saran

Dalam pertimbangan aspek geoteknik,   terlihat      bahwa banyak  faktor storie indek yang  sulit dihindari akan terus terjadi        pada daerah ini, untuk itu disarankan sebaiknya route trase ini dapat dipertimbsngksn untuk dipindahkan kedaerah yang lebih stabil.

6. REFERENSI

Arief, S., (2007), Dasar-dasar Analisis Kestabilan Lereng, viewed 10 Mei 2007, Available from Internet <http://www. scribd.com>, Sulawesi Selatan.
Brinkgreve, RBJ.,  Vermeer, PA., 1998, PLAXIS, Versiuon 7, AA Belkema Rotterdam/Brookfield.
Das, B. M., (2006), Mekanika Tanah, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Hausman, M.R., 1990. Engineering Principle of Ground Motion, International Edision, Mc Graw Hill, Inc, Singapore.
Hunt, RE., 2005, Geotechnical Engineering Investigation Handbook” Taylor & Prancis grup, USA.
Hardiyatmo, 2006, Mekanika Tanah I, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ingles,O.G., Metcalf,J.B., 1972, Soil Stabilization Principles and Practice”, Butterwoths, Sydney.
Idrus, T., (2013), Proposal Thesis, Program Magister Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.
Mahler, A, 2004, Use Of Cone Penetration Test In Pile Design, Department of Geotechnics Budapest University of Technology and Economics H–1521 Budapest, Hungary.
Munirwansyah, Reza P. Munirwan (2002), Jurnal Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Volume 2, Tahun I, No. 2, ISSN 1412-548X, pp. 1-8
Munirwansyah, (2011), Hasil Interpretasi kontur Lapisan Bawah Permukaan (Bearing Layers) dengan Menggunakan Sofwer SURFER, untuk Perencanaan Konstruksi Geoteknik Bangunan Teknik Sipil. Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Unsyiah, Banda Aceh.
Munirwansyah, Reza. P. Munirwan, (2012), Proceeding Seminar dan Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia. PIT-HATTI-VI, Hotel Borobudur Jakarta.
Munirwansyah, (2013), Proceeding Seminar dan Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia, PIT-HATTI-VII, Hotel Borobudur, Jakarta.

Wood, DM., 1990, Soil Behaviour and Critical State Soil Mechanics, Cambridge University Press, USA.