Disaster Prevention and Mitigation info for: ________________________________________________________ Earthquake, Tsunami, Longsor, Landslide, Soil Investigation & Laboratory (lab/lap), Liquifaction, Scouring, Foundation Design (perencanaan pondasi), Haighway and geometric (jalan raya), Harbor and Air port. ...............................................................................................Core Leader: Prof.Dr.Ir. Munirwansyah, M.Sc.Eng.
Selasa, 03 Februari 2015
Jumat, 30 Januari 2015
STORIE INDEX DAN ANALISIS LANJUTAN PENYEBAB KELONGSORAN JALAN NASIONAL PADA LERENG PEGUNUNGAN MEDANG RUAS BANDA ACEH - MEULABOH PROVINSI ACEH Munirwansyah 1) , Reza P. Munirwan 2) 1) Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala 2) Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala e-mail: nir_geotechnical@ymail.com; nir.geotechnical@gmail.com.
Problema kelongsoran dapat
diselesaikan dengan berbagai solusi, salah satu cara yang sangat mendasar yakni
dengan pendekatan storie index.
penyebab kelongsoran diantaranya diakibatkan oleh terjadinya pergerakan
tanah ketika kuat geser tanah menurun
sedangkan kuat gesernya lebih besar yang terakumulasi pada bidang runtuh yang
kemudian disebut slip zone. Pada
bidang ini terjadi penurunan kuat geser
tanah (lost of shear strength),
diantaranya diakibatkan oleh karena meningkatnya kandungan air tanah. Aktivitas
manusia dalam mengekploitasi hutan, siklus cuaca dapat juga mengakibatkan
kelongsoran. Beberapa faktor alam dominan yang dikenal dipakai untuk
menganalisis kelongsoran disebut storie
index, yakni; climate, topography,
land vegetations, soil and man. Peristiwa kelongsoran
dapat mengancam kehidupan manusia, hilangnya harta benda dan rusaknya berbagai
infrastruktur disekitarnya yang bernilai cukup mahal. Kerugian lain secara umum
dapat mengganggu kelancaran roda perekonomian dan kegiatan pembangunan.
Menyadari hal tersebut Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional telah
mengikutkan masalah kelongsoran ke dalam Roadmap
penelitian yang penting untuk diteliti dan didiskusikan oleh berbagai
pemangku kepentingan. Hasil analisis storie index pada lokasi kelongsoran, diperoleh
data bahwa; topography setempat
merupakan lereng gunung curam - dataran yang bersisian bukit - lereng terjal
lautan – bekas penebangan hutan – genangan curah hujan - rembesan air tanah – jenis tanah expansive dan pelaksanaanya kurang
paham pada kaedah geoteknik. Pada bagian jalan longsor merupakan daerah galian
(cut) yang geometriknya dibangun pada
slope bukit, pada lereng terdapat
rekahan tanah sejajar trase selebar 20-50 cm. Beberapa pohon yang tumbuh pada
lereng tersebut daunnya mengering, mati. Indikasi ekploitasi hutan mencapai 70%
dari luas catchman area dalam keadaan gundul, geometri slope dengan lereng άavg= 31o. Untuk meneliti
bentuk penampang longsor dan profil tanah, telah dilakukan sub-surface investigation 3 titik sondir dan 1 titik hand-bor untuk mengambil contoh tanah
dan meneliti index properties dan
sifat mekanis tanah. Aspek geoteknik penyebab kelongsoran pada lokasi ini
diakibatkan oleh fenomena pergerakan
massa tanah pada bidang interface,
terdapat aliran air phreatic yang
terputus oleh galian tanah, jenis
tanah merupakan expansive soil (tanah
mengembang) dengan PI=22.15% yang berpotensi mengikat air dan tanah menjadi
jenuh (saturated). Tanah selalu
basah, dalam kondisi jenuh effective
stress dan kuat geser tanah subgrade mengalami lost of shear strength, sehingga pada kondisi tersebut massa tanah
dan konstruksi jalan yang terdapat di atasnya bergerak dan putus mengalami
lonsor-translasi menelusuri sepanjang bidang interface. Ditemukan interface
formasi batu cadas dengan nilai CPT >120 kg/cm2 yang miring ke
sisi laut. Dapat pula disimpulkan bahwa perencanaan geometric pada ruas jalan ini, siperencana dan sipelaksana tidak
bijak dalam mencermati data tanah dan menginisiasi prinsip geoteknik.
Kata
Kunci: Storie
Index, Kelongsoran, Interface, lost of shear strength, Expansive
soil.
1.
PENDAHULUAN
Analisis storie index ini merupakan kajian
lanjutan yang dilakukan dalam penelitiuan kasus kelongsoran dan translation fault pada badan jalan di
lokasi gunung medang yang lebih fokus pada faktor tersebut di atas. Pada
banyak kasus-kasus kelongsoran atau
pergerakan tanah lateral pada lereng-lereng yang terjadi dalam wilayah pegunungan
Aceh yang juga banyak muncul di dimana-mana dalam wilayah pegunungan Aceh.
Pengamatan penulis bahwa peristiwa kelongsoran yang diakibatkan oleh pergerakan
tanah lateral pada lokasi ini cukup komplek, solusi pemecahannya perlu
melibatkan disiplin ilmu lainnya, seperti; kehutanan, pertanian, lingkungan,
sosial budaya dan perilaku manusia. Efek dari kelongsoran pada ruas jalan ini telah mengganggu kelancaran arus
lalu lintas dan jalur perekonomian menuju
pantai barat Aceh. Karena ruas jalan ini merupakan jalan nasional, maka
dampaknya juga mempengaruhi kondisi sosial politik dan pembangunan ekonomi daerah yang
merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Dalam paper ini selanjutnya akan di
bahas tentang problema kelongsoran dan lateral
force serta mekanisme penurunan nilai kuat geser (τ) pada bidang
runtuh (slip-line) yang juga merupakan kajian lanjutan pada
penelitian kerusakan berulanjut pada lokasi gunung Medang dan sekitarnya.
Munirwansyah dkk., (2012), telah menggambarkan
bahwa trase jalan pada lokasi
penelitian merupakan daerah lereng galian (cut). Kiri kanan trase jalan pada arah Banda
Aceh-Meulaboh merupakan lereng bukit di sebelah kirinya dan merupakan
galian-timbunan (cut and fill) di
bagian lereng kanan (yang juga merupakan
jurang ke arah lautan (Samudra Indonesia) dengan kemiringan lereng > 45%.
Kondisi lereng gunung di sebelah kiri merupakan lereng berbentuk lembah
sehingga trase jalan pada lokasi ini
merupakan tikungan yang mengikuti bentuk lembah berbentuk spiral-spiral. untuk
memperoleh daerah penguasaan jalan pada tikungan, maka pada sisi-sisi gunung
dilakukan pemotongan. Sedangkan dalam daerah lembah pada ketinggian 14.00 M
dari permukaan jalan merupakan areal garapan tanaman palawija yang datar kemudian
semakin menurun ke arah terdapanya trase jalan yang mengalami longsor, permukaan tanah merupakan lereng alam dengan
kemiringan berkisar 25 sampai 42 %. Daerah lembah ini merupakan konsentrasi air
perkolasi dengan phreatic-line
kurang dari 1.00 M di bawah permukaan tanah
pada lereng bukit setempat seperti diperlihatkan dalam Gambar 1.
|

Gambar 1. Kondisi Galian yang
menunjukkan batas saturated
zone
dan phreatic line.
Munirwansyah dkk., (2012)
Seperti
yang disampaikan Munirwansyah, dkk.,
(2012) bahwa kondisi tanah hampir selalu jenuh hingga musim kering. Permukaan
air bawah permukaan (phreatic-line)
bermuara pada daerah tikungan bagian cembung, dimana pada lokasi ini juga
terdapat patahan geser translasi
akibat massa tanah yang bergerak secara lateral ke lereng arah laut. Kondisi lapisan tanah pada lokasi
trase jalan ini, dijumpai lapisan lempung yang sangat plastis PI=22.15% dan
sangat mudah menarik air sehingga shearing
strength nya menurun drastis pada saat kandungan air tinggi menjadi jenuh (saturated).
Das, B.M.,
(2006), pada kondisi tersebut di atas tanah
mengalami swelling dan menjadi labil
dalam menahan beban secara vertikal maupun lateral. Seperti
diperlihatkandalam lay-out lokasi
Gambar 2 dan potongan (A-B) dalam Gambar 3, tanah dan subgrade tersebut berada di atas lapisan tanah keras yang dangkal (2,00-5,00 M) dengan interface miring, pada kondisi tersebut
lereng sangat rentan dan mudah sekali mengalami pergeseran ke arah yang lebih
rendah.
![]() |

Gambar 2. Situasi trase jalan dibangun
melalui dalam zona
berpotensi
longsor.
Munirwansyah
dkk., (2002)
Pada kondisi air
tanah meningkat hingga air terakumulasi mencapai kondisi jenuh (saturated) tegangan efektif tanah secara
gradual menurun dari tegangan totalnya, pada bidang geser/gelincir miring tersebut
dapat memicu terjadinya kelongsoran. Situasi
dari trase jalan yang mengalami patahan dan kelongsoran pada lokasi ini diperlihatkan dalam Gambar 3, sedang penampang longsor
diperlihat dalam Gambar 3.
Cross Section A-B (Gambar 2)
Gambar 3. Potongan Melintang A-B
yang
memperlihatkan interface dan
blok geser tanah yang
mendorong badan jalan dan
mengalami longsor
(Munirwansyah, 2002).
2.
STORIE INDEX
Hunt, R.E., (2005), Penyebab
lain pemicu sebuah kelongsoran adalah dari faktor manusia (man), para
operator pelaksana dilapangan yang kurang mengerti problema mekanika tanah,
kemudian membuang tanah hasil longsoran pada pinggir jalan di area longsor dapat membendung air limpasan di atas
permukaan jalan, hal tersebut juga dapat memicu kelongsoran.
Hasil penelitian
Munirwansyah, dkk., (2002), pada lokasi kelongsoran juga tidak ditemukan adanya
sistem drainase bawah permukaan (sub-drain)
yang seharusnya dibuat untuk menurunkan permukaan air dalam tanah (pheriatic-line).
Dalam perencanaan dan pelaksanaan sebagaimana kondisi yang dilihat di lapangan tidak ditemukan adanya longitudinal sub-drain yang sebenarnya dapat menghambat fenomena
kelongsoran di sini.
Hunt, R.E., (2005), sesuai dengan teori Storie
Index yang dijelaskannya bahwa pergerakan tanah (L) adalah
merupakan sebuah fungsi dari berbagai
faktor penyebab kelongsoran, yang dirangkum kedalam sebuah fungsi ( f , seperti diiperlihatkan dalam
persamaan (1).
Dimana i adalah climate, r adalah topography, v adalah land vegetations, t adalah jenis tanah dan m adalah faktor sumber daya
manusia.
3. SITE CONDITION
Kondisi setempat (site condition) di sekitar lokasi kelongsoran pertama STA. 108.400 (STA.lama), berikutnya
mengalami kelongsoran dan patahan geser lateral pada badan jalan dengan
penyimpangan garis as jalan mencapai 30 cm yang bergerak ke arah lembah dan laut.
Wood, DM.,
(1990). dari data penyelidikan dan
interpretasi lapisan tanah pada lokasi ini terdapat subgrade jenis tanah lempung
dengan nilai PI ∞ 22% dengan kandungan mineral lempung monmorillonite dengan luas
permukaan partikel lempengan (specific
surface) yang besar. Faktor penyebab
menurunnya kuat geser tanah akibat meningkatnya kandungan air pori dapat juga dilihat dalam beberapa literatur
lainya yang juga penulis baca dalam menganalisis persoalan kelongsoran, seperti
disampaikan oleh Hausman, M.R.,
(1990) dan Das, B.M., (2006) dan
Hardiyatmo (2006).
3.1. Rembesan Air Tanah
Tercapainya kondisi jenuh air (saturated),
pada lapisan lempung di atas interface telah
memicu kelongsoran pada trase jalan di sekitar
lereng Gunung Medang, hal ini terindikasi dari terdapatnya rembesan
air yang keluar melalui permukaan lereng tanah galian (Cut). Kemudian air tanah keluar
melalui kaki-kaki lereng yang alkhoirnya menyebabkan terjadinya kelongsoran
kelongsoran setempat pada semua sisi
jalan, tanah tanah longsoran tersebut menutupi saluran-saluran drainase
setempat. Di atas interface, lapisan lempung sangat mudah mencapai
kondisi jenuh (saturated) sehingga pore pressure meningkat, tegangan efektif dan kuat geser tanah (shearing strength)
secara gradual mengecil.
3.2. Zona Kerentanan Tanah Berlereng
Arief, (2007), seperti dikutip oleh Idrus, T.,(2013), pada zona dengan kemiringan lereng alam < 15%, pergerakan
tanah sangat jarang terjadi dan lereng tidak terbentuk oleh lempung expansive
maupun membentuk formasi onggokan material.
3.2.1. Zona kerentanan tinggi
Dalam zona ini umumnya gerakan tanah jarang terjadi, kisaran kemiringan lereng dari
(5-15%) sampai sangat terjal (50-70%), tergantung sekali pada kondisi sifat
fisik dan mekanis tanah pembentuk
lereng, vegetasi penutup umumnya berupa
hutan atau kebun.
3.2 2. Zona kerentanan sedang
Zona ini mempunyai kisaran kemiringan lereng mulai dari agak terjal
(15-30%) sampai curam >70%, juga
sangat tergantung dari pada kondisi sifat fisik dan mekanis tanah pembentuk lereng, vegetasi penutup
kurang.
3.2.3. Zona kerentanan rendah
Pada zona ini
pergerakan mempunyai tingkat
kerentanan rendah untuk terkena gerakan
tanah, tidak stabil, sewaktu-waktu terjadi pergerakan lateral.
3.3. Typical
Kelongsoran
Okumura (2001), merangkum
hubungan antara kondisi geologi dengan fenomena masalah landslide atau slope
failure seperti diperlihatkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi Longsor/Keruntuhan
Lereng.
|
Klasifikasi
|
Longsor
(Landslide)
|
Runtuh Lereng
(slope failure)
|
|
Geologi
|
Sering terjadi
|
Tidak terkait
|
|
Karakteristik
Tanah
|
Pada bidang
interface lempung
|
Pada tanah
kepasiran
|
|
Topografi
|
Terjadi pada
sudut lereng 5-20 derajat
|
Terjadi pada
sudut lereng >20 derajat
|
|
Kecepatan
longsor
|
Lambat 0.001
s/d 10 mm/hari
|
Sangat cepat
|
|
Penyebab
longsor
|
Pengaruh
ground water
|
Curah hujan/
intensitasnya
|
|
Skala longsor
|
Luas
|
Kecil
|
|
Indikasi
|
Sebelum
longsor ada indikasi perkembangan retakan, amblesan dan variasi air tanah
|
Terjadi
tiba-tiba/tanpa ada tanda
|
Sumber: Okumura
(2001),
4. HASIL DAN ANALISIS
Okumura (2001), seperti dikutip oleh Idrus, T., (2013), dari kolom
identifikasi dalam Tabel 1 di atas dan
dari crossection lokasi seperti diperlihatkan dalam Gambar 2 dan Gambar
3, diperlihatkan bahwa kasus kelongsoran berlanjut pada sepanjang lereng Gunung Medang ini, sangat sesuai
klasifikasi longsoran (landslide), dimana kecepatan gerak
longsor lateral relatif kecil < 10 mm/ha.
Hunt, R.E., (2005), seperti disampaikan dalam teori storie index bahwa penyebab kelongsoran juga diakibatkan oleh persoalan banyak kelalaian
manusia (man) yang terlibat, faktor man (m)
seperti ditulis dalam Rumus (1), ditulis
sebagai salah satu penyebab kelalaian manusian dalam merencanakan infrastruktur
dan kasus kasus kelongsoran, secara teoritis
banyak yang diabaikan mereka dan kurang
pemahaman terhadap aspek geoteknik lingkungan.
4.1. Bentuk-bentuk Kelongsoran
Untuk menentukan tipe kerunt
uhan, maka didekati melalui bentuk cross-section yang terdapat pada
lokasi kelongsoran, penampang tersebut digambarkan berdasarkan data survey lapangan
dengan menggunakan sondir sebanyak tiga titiksondir (S0), masing-masing seperti
diperlihatkan dalam Gambar 2. Sesuai interpretasi data konus (qc) dari hasil
pengujian sondir di titik S0-1, S0-2 dan
S0-3, maka setelah dilakukan
penggambaran profil lapisan seperti
diperlihatkan dalam Gambar 4 dan Gambar 5. Maka dapat diperlihatkan bahwa tipe
kelongsoran yang sesuai adalah
![]() |
Gambar 4. Tipe-tipe kelongsoran
tipe b) dalam Gambar 4, dan mempunyai interface seperti dalam Gambar 5.
Sehingga dapat dokatagorikan bahwa tipe kelongsoran tersebut merupakan kelongsoran
galian dengan interface.




Gambar
5. Crossection hasil
interpretasi
Uji
Sondir S01, S02 dan S03.
4.2. Gejala
Kelongsoran
Dalam Gambar 5, diperlihatkan diantara gejala
kelongsoran tersebut di tandai dengan
ditemukannya rekahan-rekahan memanjang permukaan tanah yang sejajar dengan garis
sumbu jalan. Seperti diperlihatkan dalam
Gambar 6, pada daerah longsoran tanah
yang terdapat beberapa batang pohon telah mati karena akarnya ikut bergeser dan
akarnya putus pada kedalaman yang mencapai slipe
plane.
Beberapa hal lain yang dicermati sebagai penyebab kelongsoran, dari hasil investigasi pada lokasi Gunung
Medang trsebut dapat dijelaskan berikut
ini.

Gambar 6. Pohon
mati akibat akarnya
putus pada potensial slip plane.
Pada saat air hujan
mengalami infiltrasi dan sebagian mengalami perkolasi, pada suatu kondisi massa
tanah yang berada di atas interface
telah mencapai keadaan jenuh (saturated).
Akibat berat sendiri dari massa tanah yang bergerak lateral, tekanan air pori akan mengalami peningkatan.
Ingles, O.G., Metcalf, J.B., (1972), bahwa peningkatan air pori (
) dan meningkanya tekanan pori (u), ternyata memberi pengaruh
terhadap kekuatan geser tanah (
) setempat, sehingga kuat geser tanah harganya menjadi kecil disebabkan menurunnya
tegangan efektif tanah (
)
seperti terdapat dalam persamaan (2).
di mana :
τ = kuat geser tanah (kg/cm2);
c = kohesi tanah (kg/cm2);
σ = tegangan normal pada bidang
runtuh
(kg/cm2); dan
ø = sudut geser dalam tanah (o).
Tegangan geser tanah pada bidang geser atau pada interface menjadi lebih kecil dari tegangan geser yang timbul
akibat desakan massa tanah yang bergerak, sehingga tanah berrgeser dan mengalami kelongsoran
yang terus menerus dan bahkan dapat terjadi dalam waktu yang lama apabila tidak
dilakukan upaya upaya stabilisasi atau perkuatan perkuatan (reinforcement) pada lereng tersebut.
4.3. Jenis dan Karakteristik Tanah
Dari interpretasi
jenis tanah pada lokasi longsor dengan menggunakan teori Das,
B.M., (1995), ditemukan bahwa jenis tanah pada daerah longsor merupakan tanah
lempung, tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mikroskopis dan sub mikroskopis yang berbentuk
lempengan-lempengan pipih dan mengandung mineral-mineral yang sangat halus
lainnya, diantara mineral yang berbahaya bila terdapat dalam material tanah
untuk konstruksi teknik sipil adalah; monmorillonite,
clorite, ellite dan calsite. Tanah
lempung yang mengandung di antara mineral tersebut di atas tidak boleh
digunakan untuk material timbunan, jalan raya, trase kereta api, bendungan dan
landasan run way terutama pada
penanganan kelongsoran. Pemakaian tanah tersebut terlebih dahulu harus
dilakukan stabilisasi.
Hunt RE., (2005), menjelaslkan
bahwa umumnya lapisan tanah pada lokasi ini dapat disebut lapisan lunak yaitu lempung (clay) dan lanau (slit) yang mempunyai harga pengujian penetrasi standar (Standard Penetration Test) adalah N<10 atau tanah organis dan tanah
lempung expansive yang mempunyai
kadar air alamiah yang tinggi
(dalam kondisi jenuh) diklasifikasi
sebagai lapisan yang lunak. Sebahagian besar dari lapisan lunak yang ditemukan
itu mempunyai tebal, luas dan stratifikasinya seperti diperlihatkan dalam Gambar 2 dan Gambar 3. Kondisi stabilitas tanah sangat tergantung
pula dari corak topografi dan geologi yang membentuk lapisan tersebut dan
perubahan cuaca (climate) setempat.
4.3. Hasil
Prediksi Kekerasan Tanah
Berdasarkan Nilai Uji Cone Penetration
Test (CPT),
Bowles, J.E.,
(1997), menjelaskan bahwa dengan Cone
Penetration Test (CPT) dapat
dipakai untuk menentukan profil kekerasan tanah. Data yang dikumpulkan ialah tahanan ujung (qc ) dan tahanan gesekan (qs).
Mahler, A., (2004), memberi asumsi terhadap daya dukung tanah berdasarkan
nilai konus (qc) seperti diperlihatkan
dalam Tabel
2, dengan asumsi tersebut maka jenis
dan sifat mekanis tanah dapat digolongkan dari soft (lunak), moderatelly
compact (kepadatan sedang) dan compact
soil (tanah padat atau tanah
dengan kekerasan tinggi).
Pada lokasi penelitian
ditemukan formasi tanah sebagai subgrade dan tanahb galian yang merupakan tanah moderately compacted clay, yang juga mempunyai batas batas
atterberg, yaitu batas cair dan batas
plasitis tinggi serta plastik index tanahnya tinggi, yang akhirnya dapat diiterpretasi mengandung
mineral lempung expansive soil.
Tabel 2. Korelasi qc -
Diskripsi Tanah
|
Deskripsi
Tanah
|
qc [kpa]
|
qc
|
Kc
|
Α
|
max pshaft
|
|
|
|
[kg/cm2]
|
|
|
[kPa]
|
|
Soft
clay
|
qc < 1000
|
<10
|
0.4
|
30
|
15
|
|
Moderately
compact clay
|
1000 < qc < 5000
|
10-50
|
0.35
|
40
|
80
|
|
Compact
to stiff clay, compact silt, silt and loose sand, moderately compact sand and
gravel
|
5000 < qc<12000
|
50-120
|
0.4
|
100
|
120
|
|
Compact
to veryt compct sand and gravel
|
qc > 12000
|
>120
|
0.3
|
150
|
150
|
|
Sumber : seperti dikutip oleh András Mahler (2004)
|
|||||
Tanah mngandung mineral monmorillonite dengan PI = 22 %, mempunyai spesific surface yang besar sehingga
dapat mengikat air yang cukup banyak dalam proses swelling (mengembang).
Pada
bidang longsor (slip-line), akibat
meningkatnya kandungan air dalam
massa tanah pada daerah longsor sampai mengalami tingkat kejenuhan (saturated) mengakibatkan kuat geser
tanah (τ) menurun, seperti
diperlihatkan dalam Gambar 7, beberapa
hubungan
terkait antara lain meningkatnya kuat geser tanah apabila nilai
kohesi tanah dapat ditingkatkan.

Gambar 7. Penurunan Kuat
Geser Tanah
pada slip-line dengan variasi
nilai C jenuh air.
Pada
beberapa kasus perlu dicermati bahwa peningkatan kohesi tanah biasanya diikuti
dengan menurunnya nilai sudut geser, kecuali untuk tanah pure sand atau pure clay
yang sesungguhnya tanah semacam itu
sulit didapat dilapangan.
Menurunnya
nilai kuat geser tanah akibat tanah mengalami swelling sehingga tanah mengalami
penurunan kuat geser naturalnya (lost of
strength), dikarenakan tanah menjadi
lunak
(soft) berubah sifat menjadi seperti
pelumas yang memicu kelongsoran pada bidang geser (slip-line).
Untuk
menghindari permasalahan ini maka faktor air tanah perlu ditangani dengan baik. Secara teknis dapat juga dipasang sheet-pile
pada bagian bawah untuk menahan gerak lateral tanah, pemancangan sheet-pile kedalamannya harus malampaui
bidang runtuh atau melampaui kedalaman slip-line.
Brinkgreve, RBJ., Vermeer, PA., (1998),
memberikan banyak cara untuk menghitung dengan menggunakan analisis statistik,
beberapa soft-ware untuk melalakukan
perhitungan stabilitas telah diberikan dalam teori PLAXIS. Beberapa alternatif
cara menghitung juga di berikan untuk pekerjaan stabilitas galian dan timbunan,
perencanaan perkuatan perkuatan lereng dengan menggunakan sheet pile, perencanaan dinding penahan tanah, perhitungan pengaruh
pemasangan geo-sintetik pada perkuatan lereng rencana galian dan timbunan.
5. KESIMPULAN dan SARAN
5.1. Kesimpulan:
1.
Ditemukan interface di bawah massa
tanah yang longsor dan pada natural
subgrade jalan tersebut dengan
kondisi sangat berpotensi menyebabkan gelincir, terbentuk sebagai block
slide potential,
2.
Kelongsoran terjadi diantaranya karena terdapat
potensi aliran air tanah yang terakumulasi dan terbiarkan merembes dalam
timbunan jalan, ditemukan aliran air pada lereng timbunan dan air rembesan yang
tergenang pada lubang-lubang yang terdapat pada lereng, padahal tidak dalam
kondisi hari hujan.
3. Tanah berwarna kuning muda dan kemerahan
dengan nilai plastik indek (PI) mencapai > 22%, yang mencirikan bahwa
tanah lempung yang mempunyai sifat kembang-susut tinggi atau serin g disebut expansive soil.
4. Pada kondisi mengembang (swelling) tanah menjadi lost
of strength yang menyebabkan memicu kelongsoran pada beberapa bagian dalam
ruas jalan ini.
5. Pada saat terakumulasinya rembesar air
perkolasi sampai mencapai bidang interface,
kandungan air tanah lempung yang menjadi jenuh pada slip-plane berubah sifat seperti pelumas yang memicu massa tanah
diatasnya bergeser ke arah kemiringan yang lebih rendah sehingga menimbulkan
kelongsoran translasi dan
mendorong badan jalan pada Gunung Medang ini hingga mengalami patah geser.
6. Kuat geser tanah pada slipe line atau interfase
mengecil di bawah ultimate shearing
strength, saat hal tersebut terjadi maka kelongsoran (failure) tidak dapat dihindari, pada saat tersebut dimana kuat geser tanah tersebut telah mencapai extreme effective stress.
7. Sesuai dengan tiori Hunt, R.E., (2005), seperti disampaikan dalam teori storie index bahwa penyebab kelongsoran pada lokasi ini merupakan persoalan berjamaah
faktor manusia (man) yang terlibat,
faktor man (m) adalah salah satui faktor storie index seperti ditulis dalam Rumus (1).
8. Dari hasil analisis diperoleh data bahwa tegangan
geser tanah pada bidang interface menjadi kecil dari tegangan
geser yang timbul akibat desakan massa tanah yang bergerak seperti ditunjukkan
dalam Gambar 6, sehingga di tanah diatasnya bergeser dan mengalami kelongsoran,
kelongsoran yang terjadi dapat terus menerus dan bahkan dapat terjadi dalam
waktu yang lama apabila tidak dilakukan upaya upaya stabilisasi atau perkuatan
perkuatan (reinforcement) pada lereng
sepanjang trase bermasalah tersebut.
9.
Teori dari Brinkgreve,
RBJ., Vermeer, PA., (1998), dapat
digunakan sebagai salah satu cara
untuk melakukan estimasi, seperti melakukan stabilisasi, pemasangan perkuatan double sheet pile pada salah satu sisi
trotoar yang dapat di design dengan baik, pemasangan dinding penahan tanah pada
kaki lereng, pemasangan longitudinal sub-drain pada tempat tertentu untuk
menurunkan level aliran air phreatic, serta kemungkinan pemasangan bahan geo-synthetic
pada dinding lereng rencana.
5.2. Saran
Dalam pertimbangan aspek
geoteknik, terlihat bahwa banyak faktor storie
indek yang sulit dihindari akan
terus terjadi pada daerah ini, untuk
itu disarankan sebaiknya route trase
ini dapat dipertimbsngksn untuk dipindahkan kedaerah yang lebih stabil.
6. REFERENSI
Arief, S., (2007), Dasar-dasar Analisis Kestabilan
Lereng, viewed 10 Mei 2007, Available from Internet <http://www. scribd.com>,
Sulawesi Selatan.
Brinkgreve, RBJ.,
Vermeer, PA., 1998, PLAXIS, Versiuon 7, AA Belkema Rotterdam/Brookfield.
Das, B. M., (2006), Mekanika Tanah, Jilid 1,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Hausman, M.R., 1990. Engineering Principle of Ground Motion, International Edision, Mc Graw
Hill, Inc, Singapore.
Hunt, RE., 2005, Geotechnical Engineering
Investigation Handbook” Taylor & Prancis grup, USA.
Hardiyatmo, 2006, Mekanika Tanah I, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Ingles,O.G., Metcalf,J.B., 1972,
Soil Stabilization Principles and
Practice”, Butterwoths, Sydney.
Idrus, T., (2013), Proposal Thesis, Program Magister Teknik Sipil,
Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.
Mahler,
A, 2004, Use Of Cone Penetration Test In Pile Design, Department of Geotechnics Budapest
University of Technology and Economics H–1521 Budapest, Hungary.
Munirwansyah,
Reza P. Munirwan (2002), Jurnal Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Banda
Aceh. Volume 2, Tahun I, No. 2, ISSN 1412-548X, pp. 1-8
Munirwansyah,
(2011), Hasil Interpretasi kontur Lapisan Bawah Permukaan (Bearing Layers)
dengan Menggunakan Sofwer SURFER,
untuk Perencanaan Konstruksi Geoteknik Bangunan Teknik Sipil. Jurnal Teknik
Sipil Fakultas Teknik Unsyiah, Banda Aceh.
Munirwansyah,
Reza. P. Munirwan, (2012), Proceeding Seminar dan Pertemuan Ilmiah Nasional
Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia. PIT-HATTI-VI, Hotel Borobudur Jakarta.
Munirwansyah,
(2013), Proceeding Seminar dan Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan Ahli Teknik
Tanah Indonesia, PIT-HATTI-VII, Hotel Borobudur, Jakarta.
Wood, DM., 1990, Soil Behaviour and Critical State
Soil Mechanics, Cambridge University Press, USA.
Langganan:
Postingan (Atom)




